KELUARGA, SAHABAT, DAN KESEMPURNAAN
Aku duduk menghadap jendela kamarku yg berembun karena derasnya hujan. Malam ini cuaca sangat dingin sekali, dan hujan tak berhenti dari jam empat sore. Aku tak tahu apa yg kulakukan saat ini, hanya diam. Tiba-tiba ...
"Kak Ara boleh masuk?"
Ternyata Putri yg mengetuk pintu kamarku.
"Kak Ara boleh masuk?"
Ternyata Putri yg mengetuk pintu kamarku.
"Masuk saja, tidak dikunci kok." Kataku. Putri pun masuk sambil membawa secangkir teh hangat. Dia duduk ditempat tidurku.
Putri adalah adikku yang pertama, yah aku punya dua adik, Dia juga sudah kuliah semester 7, tapi kuakui dia cantik dan paling imut. Heheh ..
"Jadi, ada apa?" Tanyaku lalu memutar kursiku menghadapnya.
"Aku...aku lagi ngerjain tugas kuliah. Terus saya dengar mama papa.. mereka teriak-teriak. Aku takut kak.." Putri pun menangis.
"Udahlah dek, nanti juga mereka berhenti berantemnya. Kamu ngerjain tugas kuliah dikamar kakak saja. Eh iya, Angel mana dek?" Tanyaku ..
"Kak, Angel belum pulang. Tidak tau kemana" jawab Putri.
"Ohmm". Jawabku singkat.
Angel adalah adikku yg kedua. Sekarang dia nakal semenjak hubungan mama papaku jadi tidak harmonis ..
Dulu, hidupku sempurna. Kata mamaku, waktu kecil aku anak yg sopan dan semua orang senang padaku. Mereka selalu ingin berbicara denganku. Ketika aku sudah lulus dari Universitas, aku menjadi seorang guru dan Pe-bisnis. Aku juga seorang aktivis di Kampusku dulu. Selain itu, saat SD aku juga termasuk juara kelas, nilai-nilaiku hampir sempurna. Guru-guruku sangat menyukaiku.
Keluargaku hidup bahagia, kami selalu berlibur bersama ketika liburan sekolah, entah itu ke rumah nenek atau bahkan ke rumah sanak saudara mamaku. Setiap Minggu, kami kumpul bersama. Kuakui itu menyenangkan. Tentu..aku punya banyak teman. Semua orang ingin berteman denganku. Mereka bilang, hidupku terlalu sempurna. Tapi selain teman, aku juga punya beberapa musuh. Yah, mereka orang-orang yang iri dengan kesempurnaan hidupku, setidaknya begitu kata temanku.
Lalu, hidupku yg sempurna itu berakhir ketika aku kuliah semester lima. Karena banyak kesalahpahaman, mama papaku jadi sering bertengkar. Awalnya, mereka hanya saling diam ketika makan malam. Tapi lama kelamaan keadaan makin memanas, setiap aku pulang kuliah, tak pernah lagi mereka berdua menyambutku. Hanya salah satu dari mereka, karena sejak saat itu keduanya jarang ada dirumah. Jika ada mama, papa tak ada. Begitupun sebaliknya. Hanya waktu malam hari mereka ada di rumah. Setiap hari, ada saja keributan yg terjadi. Bahkan aku pernah melihat pembantuku sedang menyapu guci yg pecah. Aku berpikir itu karena pertengkaran mama papaku. Kami juga jadi tidak pernah bercanda bersama lagi, apalagi berlibur. Ya Tuhan, mengapa mereka seperti ini?
Kasihan adik-adikku, apalagi Angel. Dia masih SMA, tapi untungnya pertengkaran orangtuaku ini tidak mempengaruhinya ke hal-hal yg buruk. Lain dengan adikku yg pertama, Putri. Dulu dia anak yg baik, setidaknya sampai dia kelas 3 SMA. Ya, kata teman-temanku ia cantik walaupun tidak begitu cerdas. Setiap pulang sekolah ia tak pernah langsung pulang ke rumah, entah itu bermain bersama teman-temannya atau menikmati hiburan diluar sana. Aku tidak tau pasti dan tidak peduli. Aku pernah bertanya padanya mengapa dia jadi begini. Dan selalu begini jawabannya "Untuk apa aku pulang ke rumah hanya untuk mendengar mereka bertengkar? Untuk mendengar gelas yg pecah? Mendengar tangisan Angel? Atau mendengar kakak mencoba melerai mereka? Please, kak. Aku juga mau bebas!" Begitulah jawaban Putri. Semenjak itu, Kelakukan Putri makin menjadi-jadi. Aku pernah menemukan surat teguran dari guru BP di dalam tasnya. Dan aku berharap tidak menemukan narkoba ataupun hal-hal terlarang lainnya di dalam kamarnya.
Dan aku? Kata teman-temanku, aku berubah. Aku tak lagi menyenangkan seperti dulu. Aku lebih banyak diam dan selalu menyendiri. Setiap berangkat kampus, wajahku tak lagi segar seperti dulu. Kantung mataku hitam, badanku semakin kurus, aku sekarang lebih aktif di dunia hiburan. Kata temanku, dunia hiburan dapat menenangkan pikiran. Dan aku juga memutuskan berhenti kuliah. Rasanya terlalu munafik untuk selalu tersenyum saat bertemu dengan teman-temanku, padahal orang-orang pun tau hidupku sekarang.
Begitulah keluargaku sekarag. Pekerjaan bapakku memang tidak kandas dan rumahku jauh dari kata kesederhanaan. Itu sangat terlihat seperti sinetron. Tapi sekarang, hidupku jauh dari kesempurnaan.
Pagi ini, aku akan berangkat kerja ke sekolah. Memulai aktifitasku seperti biasa. Aku segera menuju pintu dan melewati ruang tamu. Hei, ada amplop coklat di atas meja tuang tamu. Aku pun penasaran dan mencoba untuk membukanya, lalu aku sedih dan tak bisa berkata apa-apa. Can't you guess that? Itu surat perceraian. Tentu saja perceraian orangtuaku.
Aku segera berlari mencari mama papa, mereka harus memberikan penjelasan! Tapi, aku tidak menemukan mereka. Lalu aku bertanya kepada pembantuku ..
"Bi, mama papa mana?" Tanyaku.
"Mbak Ara tidak dikasih tau? Mereka lagi ngurus apa ngtu..bibi kurang tau, mbak." Jwb pembantuku.
Aku tak menjawab lagi. Pikiranku sudah tak karuan. Bagaimana nasib adik-adikku kalau mereka bercerai? Belum cerai saja mama papaku sudah tak peduli pada anak-anaknya. Bahkan mereka tidak tau kalau Putri menjadi nakal dan aku berhenti kuliah. Mereka hnaya mementingkan urusannya masing-masing.
Cukup, inilah puncaknya. Mereka akan BERCERAI! Dan aku pernah berjanji, aku frustasi kalau mereka bercerai dan aku akan keluar dari rumah, lebih tepatnya kabur. Yah, tidak untuk selamanya sih, hanya untuk menenangkan pikiranku yg sangat kacau saat ini. Aku tidak sanggup dan keputusanku sudah bulat. Aku segera berganti pakaian, memasukkan barang-barangku ke tas ranselku dan menilis surat untuk adikku.
"Mbak Ara mau kemana?" Tanya Bibi.
"Hmmm hari ini ada kegiatan camping, besok pagi aku kembali." Ucapku dengan nada berbohong.
Bibi tidak curiga dan aku segera menuju ke terminal.
Sampai di terminal, aku segera naik bus jurusan Makassar. Aku akan ke rumah nenekku. Aku segera masuk bus dan duduk di kursi yg kosong. Beberapa lama kemudian, datang seorang cowok sebayaku memakai earphone dan topi dan dia duduk di sampingku. Aku hanya melirik sebentar, lalu tidak mempedulikannya. Tapi, sebentar ...
"Hei, kamu Felix bukan?" Tanyaku tiba-tiba.
Awalnya cowok itu heran, lalu.. "Ah! Kamu Ara? Apa kabar? Lama banget tidak ketemu!"
"Hahaha iya yah!" Seruku.
Tak ku sangka, kami bertemu disini. Ajaib. Felix ini adalah sahabat SMA ku dulu. Dia orangnya sangat baik, hari-hari kami lalui bersama di sekolah selama tiga tahun lamanya. Sungguh menyenangkan kita bisa bertemu disini.
"Jadi, kamu sendirian?" Tanya Felix sambil meminum sebotol air.
"Yah, aku.. mau ke rumah nenek." Jawabku singkat sambil menyambar botol yg ia minum.
"Oh begitu." Jawabnya singkat. Dia tidak curiga.
Lalu kami pun mengobrol tentang banyak hal selama perjalanan. Anehnya, ketika bersamanya, rasanya aku menjadi senang, aku melupakan beban-bebanku. Begitu mudahnya dia membuatku tertawa, membuatku lupa akan masalah beratku. Lama-lama, aku mengantuk tapi aku tak mau tidur. Dia lalu berbagi earphone-nya denganku. Terdengarlah lagu Rohani yg membuatku tertidur.
Tak terasa sudah hampir sampai terminal Makassar dan Felix pun membangunkanku.
"Ara, sudah hampir sampai nih! Bangun!" Kata Felix.
Aku masih mengantuk dan yah suasana kota Makassar sudah terasa. Aku dan Felix turun dari bus. Aku sedikit muram karena harus berpisah dengannya.
"Baiklah, sampai disini dan aku akan menaiki taksi. Sampai jumpa!" Kataku pada Felix dan ia melambaikan tangannya. Baru selangkah aku berjalan, tiba-tiba kepalaku terasa sakit. Aku jatuh dan tidak bisa melihat apa-apa. Gelap.
"Raa? Are you okay?"
Aku mendengar sebuah suara. Dan itu ternyata.. Felix. Kenapa kamu disini? Dimana aku?
"Kamu di rumah sakit. Tiba-tiba kamu terjatuh. Tidak tau kenapa." Jawab Felix seakan ia bisa membaca pikiranku. "Sekarang kita menunggu laporan dari dokter."
Rumah sakit? Laporan dokter? Jangan-jangan ..
"Ananda Ara, kamu menderita penyakit Tumor otak. Untuk lebih detailnya sedang diproses oleh tim dokter." Kata dokter.
"Apa.. tumor otak dok? Felix terkejut.
Aku tidak terkejut, aku sudah menderita penyakit ini sejak lama. Hasil ronsengnya tidak aku berikan ke mama papaku. Lah mereka tidak menanyakan. Karena penyakit ini, aku sering demam ketika malam hari, ditambah lagi aku suka mandi malam.
Sekarang, bahkan untuk berdiri saja aku tidak kuat. Terpaksa aku harus memakai kursi roda. Rencanaku ke rumah nenek gagal dan aku takkan menghubungi satupun keluargaku tentang ini.
Aku harus menginap selama beberapa hari di rumah sakit dan Felix selalu menemaniku. Dia selalu mendorong kursi rodaku, dia sahabat yamg baik.
Hari-hati pun berlalu. Aku semakin sehat dan dokter memperbolehkan ku pulang, tapi aku tidak tau harus pulang kemana. Apa? Kenapa tiba-tiba mereka tau aku disini?
Sebentar....dimana Felix?
"Ara! Kamu tidak apa-apa?" Teriak mama histeris lalu ia memelukku.
Aku diam saja. Walaupun aku heran mengapa mama, Putri, dan Angel bisa disini. "Tidak." Jawabku, tidak jelas.
"Oh syukurlah." Kata mama tenang.
"Tidakkah mama lihat? Aku seperti ini dan mama hanya bilang "Syukurlah"? Mama tau apa tentang aku? Mama tau saya mengidap Tumor Otak? Tidakk! Mama selalu aja sibuk sama urusan sendiri! Bahkan mama tidak peduli sama Putri, Angel?" Emosiku memuncak tapi aku mencoba berkata dengan sopan.
"Mama minta maaf, nak. Maaf kalau mama papa tidak memperhatikan kalian selama ini. Maaf kalau keluarga kita jadi berantakan gara-gara ini semua." Kata mama.
Aku terkejut. "Oke, terserah mama. sekarang, kenapa mama bisa sampai disini?" Tanyaku penasaran.
"Felix yg menelpon mama. Dia minta mama segera kesini. Sekarang, ayo kita jenguk Felix dulu. Kita selesaikan masalahnya nanti bersama papa."
"Felix kenapa, Ma?" Tanyaku kaget.
"Kamu jangan kaget yah, nak. Felix sekarang lumpuh. Waktu kamu keterusan memutar roda kursimu sampai ke jalan raya, Felix mencoba menghindarinya lalu ia tertabrak mobil dan sekarang ia lumpuh." Mama bercerita.
Aku semakin terkejut. Bagaimana bisa? Aku ingat waktu aku ke jalan raya dan Felix pun terjatuh. Tapi dokter bilang ia tidak apa-apa. Kenapa keadaannya jadi terbalik begini?
Tiga bulan berlalu ..
Aku sudah pulang ke rumah. Memang sih orangtuaku tetap bercerai tapi mereka tetap berkomunikasi. Aku tinggal di Palopo bersama mamaku, sedangkan papa di Jawa. Hidupku kembali seperti dulu lagi, yah walaupun tidak sesempurna dulu. Tapi aku menikmatinya. Dan sekarang, aku yg mendorong kursi roda untuk Felix, sahabatku.
"Terimakasih" ...
0 Response to "KELUARGA, SAHABAT, DAN KESEMPURNAAN "
Post a Comment