BAB I
KOLONIALISME DAN IMPERIALISME BANGSA EROPA DI INDONESIA
↪ Lahirnya Kolonialisme dan Imperialisme Bangsa Eropa
1. Pada awalnya, kolonialisme dan imperialisme Eropa bukanlah dilatarbelakangi oleh ambisi untuk menguasai dan menjajah bangsa-bangsa di Asia dan Afrika. Tujuan awalnya adalah berdagang. Mereka membeli barang-barang yang langka di pasar Eropa, terutama rempah-rempah, dan sesekali menjual hasil-hasil produksi mereka, seperti pakaian, kepada bangsa Asia dan Afrika.
2. Penjelajahan Bangsa Eropa mengarungi samudra dipelopori oleh bangsa Portugis. Penjelajahan samudra tersebut didorong oleh berbagai faktor, antara lain sebagai berikut:
a. Dikuasainya Konstantinopel oleh Turki Usmani (Ottoman) pada tahun 1453. Konstantinopel adalah kota pusat perdagangan barang-barang berharga dari dunia Timur (Asia), termasuk rempah-rempah dan sutra.
b. Perkembangan teknologi pelayaran. Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi turut berperan penting dalam melahirkan penjelajahan samudra. Keyakinan bahwa bumi berbentuk bulat sangat ingin dibuktikan oleh bangsa Eropa melalui penjelajahan samudra. Hal ini didukung oleh perkembangan teknologi di bidang pelayaran, seperti kapal karavel, teropong, kompas, meriam.
c. Berkembangnya paham merkantilisme di Eropa. Merkantilisme adalah teori ekonomi yang menyatakan bahwa kesejahteraan suatu negara ditentukan oleh banyaknya aset atau modal serta besarnya volume perdagangan global. Aset atau modal itu berupa emas dan perak.
d. Mencari kekayaan perdagangan (gold), misi penyebaran agama Katolik atau Kristen (gospel), dan membangun kekuasaan (glory)
➽ Gold : mencari kekayaan ke dunia Timur.
➽ Gospel : Menyebarkan agama.
➽ Glory : Mencapai kejayaan
↪ Perebutan Hegemoni Bangsa Eropa di Indonesia
1. Kedatangan Portugis di Nusantara diawali dengan kedatangan kapal penjajah pimpinan Afonso de Albuquerque (1453-1515). Ia adalah orang Eropa pertama merintis kolonisasi Eropa selama berabad-abad atas Nusantara. Pada 10 Agustus 1511, armadanya berhasil menaklukkan Malaka. Portugis kemudian melakukan ekspedisi Maluku (1512) di bawah pimpinan Antonio de Abreu dan Francisco Serrao, kemudian merintis poros perdagangan Ternate-Malaka-Goa-Lisbon. Di Ternate, Portugis menjalin persekutuan dengan Kesultanan Ternate (1512). Terjadinya persekutuan tersebut disebabkan kepentingan Ternate yang saat itu membutuhkan dukungan ketika sedang berkonflik dengan Tidore. Namun, persekutuan tersebut tidak berlangsung lama karena monopoli perdagangan rempah-rempah yang dilakukan Portugis memicu konflik yang menyebabkan terbunuhnya penguasa Ternate saat itu, Sultan Khairun. Hal tersebut memicu balas dendam dari Sultan Baabullah, anak Sultan Khairun. Setelah dikalahkan Sultan Baabullah (Ternate) pada 1575, Portugis lebih banyak beroperasi di Ambon. Pada 25 Februari 1605, Belanda menyingkirkan Portugis dari Ambon. Portugis kemudian menduduki Timor, Solor, dan Flores.
2. Tidak hanya Portugis dan Belanda, Spanyol pun sempat singgah dan membangun persekutuan dagang di Maluku. Kedatangan Spanyol ke Nusantara diawali oleh kedatangan kapal penjelajah yang dipimpin Ferdinand Magellan di Filipina. Spanyol tiba di Maluku pada 1521 di bawah pimpinan Sebastian del Cano. Selama di Maluku, Spanyol sempat membangun persekutuan dengan Kesultanan Tidore. Namun, keberadaan Spanyol ini justru memicu konflik dengan Portugis. Portugis menilai Spanyol telah melanggar Perjanjian Tordesillas (1494). Konflik ini kemudian diselesaikan melalui Perjanjian Saragosa (1529). Isi Perjanjian tersebut adalah Spanyol harus meninggalkan Maluku (kemudian mendapatkan Filipina) dan Portugis tetap berkuasa di Maluku.
3. Kedatangan Belanda diawali pada 1592, ketika Cornelis de Houtman diutus oleh para pedagang Amsterdam ke Lisbon untuk menemukan informasi sebanyak mungkin mengenai pusat komoditas rempah-rempah. Berbekal informasi yang sudah terkumpul dan disponsori oleh sebuah perusahaan Belanda yang bernama Compagnie van Verre, tim ekspedisi pimpinan de Houtman memulai pelayarannya ke Nusantara pada 1595. Pada 22 Juni 1596, ekspedisi de Houtman dan rombongan tiba di Banten. Namun, rombongan tersebut gagal menancapkan pengaruhnya di Nusantara karena berseteru dengan Kesultanan Banten. Ekspedisi kedua (1598-1600) dipimpin oleh J.C. van Neck. Kedatangan van Neck ini disambut baik oleh masyarakat Banten. Selanjutnya, Van Neck memerintahkan Wybrand van Warwyjk berlayar ke Maluku pada 1599. Rakyat Maluku yang telah lama kecewa dengan monopoli Portugis, menyambut baik kedatangan Belanda. Pada 1605, Belanda memaksa Portugis menyingkir dari Ambon. Pada 1623, kepulauan Banda dikuasai Belanda. Sejak saat itu, Belanda sepenuhnya memonopoli perdagangan rempah di Kepulauan Maluku.
↪ Kolonialisme Bangsa Belanda di Indonesia
1. Pada 1602, pemerintah Belanda membentuk serikat dagang bernama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Kompeni. Pemegang sahamnya adalah pedagang-pedagang besar Belanda. VOC sebagai serikat dagang dipimpin oleh Dewan Heeren XVII (Heeren Zeventien) atau Dewan Tujuh Belas yang merupakan gabungan direktur dari para pemegang saham di setiap kamar dagang. Para pemegang saham tersebut merupakan para pedagang besar Belanda. Tujuan pembentukan VOC adalah sebagai berikut:
a. Menghindari persaingan yang tidak sehat di antara pedagang-pedagang Belanda
b. Memperkuat posisi Belanda menghadapi persaingan dengan Bangsa-Bangsa Eropa lainnya, seperti East India Company (EIC)
c. Memonopoli perdagangan rempah di Indonesia
d. Membantu pemerintah melawan pendudukan Spanyol
2. VOC diberi hak-hak istimewa (hak oktroi), yaitu :
a. menjadi wakil sah pemerintah Belanda di Asia
b. memonopoli perdagangan
c. mencetak dan mengedarkan uang sendiri
d. mengadakan perjanjian serta menyatakan perang dengan negara lain
e. menjalankan kekuasaan kehakiman
f. memungut pajak
g. membangun angkatan perang
h. menyelenggarakan pemerintahan sendiri
3. Garis besar kebijakan VOC adalah sebagai berikut:
a. Menerapkan pajak contingenten dan verplichte leverantie. Keduanya merupakan penyerahan sebagian hasil bumi. Bedanya, pada contingenten, sebagian dari hasil bumi wajib diserahkan kepada pemerintah sebagai pajak. Pada verplichte leverantie, rakyat wajib menjual sebagian hasil buminya kepada VOC dengan harga yang ditentukam VOC.
b. Menyingkirkan pedagang dari suku bangsa lain ataupun pedagang Jawa, Melayu, Arab, dan Tiongkok. VOC bermaksud memonopoli perdagangan rempah (cengkeh dan pala) di Nusantara.
c. Menentukan luas area penanaman rempah-rempah beserta jumlah tanamannya.
d. Menerapkan kebijakan ekstirpasi (menebang kelebihan jumlah tanaman terutama rempah-rempah agar produksinya tidak berlebihan sehingga harga tetap stabil) yang didukung pelayaran hongi (hongi tochten).
e. Mewajibkan kerajaan yang terikat perjanjian dengan VOC untuk menyerahkan upeti kepada VOC setiap tahun.
f. Mewajibkan rakyat menanam tanaman tertentu, terutama kopi, kemudian hasilnya dijual kepada VOC dengan harga yang sudah ditentukan oleh VOC.
4. Gubernur Jenderal VOC yang terkenal karena kekejamannya adalah Jan Pieterszoon Coen (1619-1623; 1627-1629). Untuk mewujudkan monopoli pala dan cengkeh di Maluku dan Banda, ia melakukan hal-hal berikut:
a. Mengusir orang Inggris di Pulau Run, pulau penghasil dan pemasok utama pala dunia.
b. Mengusir dan melenyapkan penduduk asli Banda untuk menerapkan monopoli rempah secara total. Selain itu, untuk membalas kematian Verhoeven, perwira VOC yang dibunuh orang Banda.
c. Melaksanakan kebijakan ekstirpasi, yaitu membinasakan tanaman, terutama rempah-rempah dalam rangka menekan kelebihan produksinya. Tujuannya adalah menjaga kestabilan harga cengkeh di pasaran.
5. Setelah berkuasa hampir 200 tahun, VOC mengalami kemunduran hingga dibubarkan oleh pemerintah Belanda pada 1799. Faktor penyebab kemunduran VOC adalah sebagai berikut:
a. Faktor Internal:
1. Korupsi di semua tingkatan, mulai dari pegawai rendah sampai pejabat tinggi.
2. Sebagian oknum pegawai VOC ikut serta dalam kegiatan perdagangan ilegal yang merugikan VOC.
3. Besarnya anggaran biaya untuk para pegawai karena makin meluasnya kekuasaan VOC, sedangkan penghasilan VOC makin menurun.
4. Besarnya biaya perang untuk menanggulangi perlawanan rakyat Nusantara. Hal ini justru membuat utang VOC menumpuk (saat dibubarkan sebesar 134,7 juta gulden).
5. VOC kalah bersaing dengan serikat dagang asing lainnya, seperti EIC (Inggris).
6. Pemasukan yang kecil serta utang yang besar menyulitkan VOC memberikan bagi hasil kepada para pemegang saham.
b. Faktor Eksternal:
Belanda dikuasai Prancis. Pada 1795, Prancis di bawah Napoleon Bonaparte menguasai Belanda dan mendirikan Republik Bataaf (1795-1806). Pendudukan tersebut merupakan bagian dari ambisi Napoleon menyebarluaskan hasil-hasil Revolusi Prancis, yaitu Republikanisme, kebebasan, dan kesetaraan ke seluruh Eropa yang pada saat itu masih menganut sistem pemerintahan ke monarki. Pemerintah Republik Bataaf memandang tindak-tanduk VOC bertentangan dengan semangat Revolusi Prancis sehingga harus dibubarkan.
↪ Masuknya Pengaruh Prancis dan Inggris di Indonesia
1. Setelah VOC dibubarkan, terjadi kekosongan kekuasaan di Nusantara. Pada saat yang bersamaan, Inggris juga mengincar Nusantara. Posisi Nusantara yang secara tidak langsung dikuasai Prancis membuat negara tersebut fokus untuk mempertahankan kekuasaannya. Namun, situasi perang yang berkecamuk di Eropa membuat Prancis dan pemerintah Belanda mustahil mengirim bantuan ke Batavia karena jalur laut dikuasai Inggris. Tindakan yang dapat dilakukan adalah menugaskan seorang gubernur jenderal yang kuat, yaitu Herman Willem Daendels. Ia ditugasi membangun pertahanan di Nusantara untuk menghadapi kemungkinan serangan Inggris.
2. Daendels berkuasa dari januari 1808 sampai Mei 1811. Tugas utama Daendels bukan untuk memperoleh keuntungan ekonomi yang sebesar-besarnya, melainkan mempertahankan Jawa dari serangan Inggris serta memperbaiki keadaan tanah jajahan dari berbagai aspek, terutama masalah korupsi. Untuk itu, Daendels menerapkan sejumlah kebijakan berikut :
a. Membangun Jalan Raya Pos dari Anyer (ujung barat Jawa) sampai Panarukan (ujung timur Jawa) dengan tujuan meningkatkan mobilitas tentara. Tujuan lainnya adalah memudahkan pengangkutan komoditas dari pendalaman Priangan ke Batavia melalui pelabuhan di Cirebon dan Indramayu. Untuk itu, Daendels memberlakukan kerja paksa serta melanjutkan kebijakan Verplichte Leverantie.
b. Mendirikan banyak benteng pertahanan.
c. Membangun pangkalan angkatan laut di Merak dan Ujung Kulon.
d. Membangun angkatan perang beranggotakan kaum bumiputra atau pribumi, seperti Legiun Mangkunegaran.
e. Mendirikan pabrik senjata (Surabaya), pabrik meriam (Semarang), dan sekolah militer (Batavia).
3. Pada 1811, Daendels digantikan oleh Jan Willem Janssens. Janssens tidak dapat mempertahankan Jawa dari serangan Inggris. Pada akhirnya, Janssens dipaksa menyerah di Tuntang, Jawa Tengah, pada 1811. Penyerahan kekuasaan ini diikuti dengan Perjanjian Tuntang (1811) yang isinya:
a. seluruh koloni Belanda diserahkan kepada Inggris;
b. semua tentara Belanda menjadi tawanan perang Inggris;
c. semua pegawai yang mau bekerja sama dengan Inggris dapat ditempatkan pada jabatan semula.
4. Inggris menunjuk Thomas Stamford Raffles sebagai letnan gubernur. Raffles menekankan asas-asas liberal (kebebasan, kesetaraan, dan supremasi hukum) yang tercermin dalam beberapa kebijakan, yaitu :
a. menghapus preangerstelsel (kebijakan tanam paksa di Priangan), kerja rodi, serta menghentikan perdagangan budak;
b. rakyat bebas menentukan jenis tanaman yang ditanam dan pemerintah memfasilitasi penjualan tanaman-tanaman ekspor milik rakyat;
c. menghapus pajak hasil bumi (contingenten) dan sistem penyerahan wajib (verplichte leverantie) yang sudah ada dari zaman VOC;
d. tanah adalah milik pemerintah dan petani hanya penggarap. Sebagai penggarap, petani dikenakan sewa tanah yang harganya ditetapkan pemerintah da dibayar tunai;
e. pajak sewa tanah dikenakan per-kepala/per-orang.
f. bupati diangkat sebagai pegawai pemerintah dan jabatan turun-temurun dihapus;
g. membagi Pulau Jawa menjadi 16 keresidenan;
h. sistem pemerintahan dan peradilan mengacu pada sistem Inggris.
5. Masa kekuasaan Raffles relatif singkat, yaitu dari 1811 hingga 1816. Hal ini berkaitan dengan kekalahan Napoleon (Prancis) dalam Pertempuran Leipzig (1813) melawan pasukan koalisi (Rusia, Prusia, Austria, dan Swedia). Kekalahan Prancis berarti kemerdekaan bagi Belanda. Hal ini memungkinkan Belanda berunding dengan Inggris terkait dengan bekas-bekas wilayah jajahannya, termasuk Nusantara. Perundingan tersebut menghasilkan Konvensi London (1814). Salah satu butir penting konvensi ini adalah Belanda mendapatkan kembali Nusantara, kecuali Bengkulu. Penyerahan kembali Nusantara ke tangan Belanda dilaksanakan pada 1816.
↪ Masa Kekuasaan Kerajaan Belanda (1816-1942)
1. Konvensi London mengembalikan hak Belanda atas Nusantara. Namun, pada saat yang sama, pemerintah Belanda mengalami krisis keuangan yang parah lantaran banyaknya biaya untuk melawan pendudukan Prancis serta untuk membayar utang-utang VOC. Untuk itu, Belanda mengutus van der Capellen (1816-1826) yang kemudian digantikan du Bus de Gisignies (1826-1830) dengan misi mengeksploitasi kekayaan alam sebesar-besarnya untuk menutupi kas negara yang kosong. Namun, kedatangan Belanda kali ini disambut dengan perlawanan rakyat. Hal ini membuat keuangan Belanda makin merosot. Untuk menyelamatkan Negeri Belanda dari kritis, diutuslah Johannes van de Bosch sebagai gubernur jenderal baru menggantikan du Bus de Gisignies. Tugas van de Bosch adalah mengumpulkan dana semaksimal mungkin untuk menyelamatkan negara dari kebangkrutan. Untuk memenuhi tugasnya, Bosch Bosch memusatkan perhatian pada kegiatan penanaman tanaman ekspor secara paksa. Hal tersebut dilakukan karena rakyat tentu akan menolak melakukannya jika hanya sukarela. Hal tersebut menjadi latar belakang kebijakan yang kemudian dikenal sebagai tanam paksa atau cultuurstelsel (1830-1870).
2. Kebijakan tanam paksa sebetulnya bukan hal baru, tetapi pernah dirintis di Tanah Sunda (Priangan) pada masa Gubernur Jenderal Hendrick Zwaardecroon (1718-1725) dengan nama preangerstelsel. Di seluruh Pulau Jawa, sebanyak 18 keresidenan dijadikan pusat areal tanam paksa, kecuali Surakarta dan Yogyakarta. Menjelang tahun 1840, sistem ini berlaku secara penuh di Jawa. Berikut adalah kebijakan-kebijakan dasar cultuurstelsel :
a. setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (1/5 atau 20%) untuk ditanami komoditas ekspor (khususnya kopi, teh, tebu, dan nila) yang hasilnya dijual kepada pemerintah dengan harga yang sudah ditentukan;
b. rakyat yang tidak memiliki tanah harus bekerja di tanah-tanah pertanian dan pabrik pengolahan hasil pertanian milik pemerintah selama 66 hari atau seperlima tahun;
c. waktu mengerjakan tanaman pada tanah pertanian yang diperuntukkan bagi cultuurstelsel tidak boleh melebihi waktu tanam padi atau kurang dari tiga bulan;
d. kelebihan hasil produksi akan dikembalikan kepada rakyat;
e. gagal panen yang bukan disebabkan kesalahan petani, misalnya karena bencana alam atau hama akan ditanggung oleh pemerintah;
f. pengawasan penggarapan lahan dan penyerahan hasil panen dilakukan oleh kepala desa setempat.
3. Dalam praktiknya, tanah pertanian milik rakyat digunakan seluruhnya untuk ditanami tanaman paksa atau wajib dan hasilnya diserahkan seluruhnya kepada pemerintah kolonial. Bahkan, tanah-tanah yang digunakan untuk tanaman paksa/wajib pun tetap dikenai pajak. Adapun bagi warga yang tidak memiliki lahan pertanian, wajib bekerja selama setahun penuh di lahan pertanian milik pemerintah kolonial Belanda. Sistem ini menuai kritik dari berbagai pihak, termasuk dari orang-orang Belanda sendiri, seperti Eduard Douwes Dekker. Ia menulis kritikannya dalam buku yang diberi judul Max Havelaar (1860) dengan nama pena Multatuli.
4. Sistem tanam paksa dihapus pada 1870 setelah pengesahan Undang-Undang Agraria (Agrarische Wet) dan Undang-Undang Gula (Suiker Wet). Tujuan UU Agraria adalah :
a. melindungi hal milik petani atas tanahnya dari penguasa dan pemodal asing;
b. memberi peluang kepada pemodal asing untuk menyewa tanah dari penduduk bumiputra dan dapat menyewa tanah pemerintah hingga jangka waktu 75 tahun;
c. membuka kesempatan kerja kepada penduduk untuk menjadi buruh perkebunan.
Sementara itu, UU Gula bertujuan memberikan kesempatan yang lebih luas kepada para pengusaha gula untuk mengambil alih pabrik-pabrik gula milik pemerintah. Pengusaha swasta diberikan kewenangan untuk mengelola dan menciptakan lahan perkebunan. Kebijakan ini diharapkan mampu menambah pendapatan Belanda dari investasi pengusaha perkebunan di wilayah jajahan.
5. Kebijakan pintu terbuka (1870-1900) merupakan kebijakan pola liberal Belanda yang ditandai dengan pengesahan UU Agraria dan UU Gula. Pelaksanaan kebijakan pintu terbuka tidak terlepas dari perubahan peta politik-ekonomi di Belanda pada pertengahan abad XIX. Faktor yang memengaruhi, antara lain sebagai berikut :
a. Perubahan Politik di Belanda
Pada 1850, Partai Liberal Belanda memenangi pemilu. Pada pemilu 1870, partai ini meraih kemenangan mutlak. Dampak kemenangan Partai Liberal dalam bidang ekonomi adalah penerapan sistem ekonomi liberal di Nusantara. Gagasan dasarnya adalah setiap individu diberi ruang (kebebasan) seluas-luasnya untuk melakukan kegiatan ekonomi tanpa campur tangan negara. Oleh karena bergantung pada modal swasta untuk menggerakkan perekonomian, sistem ini juga disebut dengan kapitalisme. Dengan kebijakan pintu terbuka, untuk pertama kalinya, rakyat indonesia diperkenalkan dengan sistem kapitalisme.
b. Pengaruh Revolusi Industri
Revolusi industri yang terjadi sejak 1750 di Inggris telah memberikan dampak positif bagi perekonomian Belanda, terutama melalui penggunaan mesin-mesin baru dan canggih dalam industri. Revolusi industri di Belanda tidak terlepas dari lancarnya pasokan bahan mentah dari Indonesia.
6. Pada pelaksanaan dan dampaknya, kebijakan pintu terbuka menarik minat banyak pengusaha swasta untuk berinvestasi di indonesia, baik di bidang perkebunan maupun pertambangan. Namun, bagi rakyat Indonesia, kebijakan ini membuat penderitaan yang makin besar. Penderitaan ini terjadi karena eksploitasi penduduk dan penggunaan lahan untuk perkebunan secara berlebihan. Pengusaha perkebunan memerlukan banyak tenaga kerja (koeli) yang direkrut dari Jawa dan Madura, bahkan dari luar negeri (Tiongkok). Alih-alih mendapatkan upah, para tenaga kerja justru diperlakukan semena-mena. Hal ini merupakan wujud nyata eksploitasi manusia pada masa Hindia Belanda. Sementara itu, ekploitasi lahan tampak dalam bentuk penggunaan lahan produktif masyarakat serta penebangan ratusan ribu hektare areal untuk perkebunan dan pertambangan.
PILIHAN GANDA
1. Salah satu faktor utama yang melatarbelakangi kolonialisme dan imperialisme bangsa eropa adalah keinginan untuk berdagang secara langsung dengan dunia Timur. Alasan yang mendorong hal tersebut terjadi adalah ...
a. mendapat keuntungan yang lebih besar
b. memonopoli perdagangan rempah-rempah
c. menguasai jalur perdagangan darat dan laut
d. menjadi pesaing Turki Usmani dalam bidang perdagangan
e. menyebarkan agama dan pengaruh Katolik ke seluruh penjuru dunia
2. Pada tahun 1453, Konstantinopel dikuasai oleh Turki Usmani. Hal ini menjadi salah satu pemicu dimulainya penjelajahan samudra bangsa-bangsa Eropa. Dampak yang ditimbulkan dari kondisi tersebut adalah ...
a. bangsa Eropa termotivasi untuk mencapai kejayaan seperti Turki Usmani
b. banyak pelaut ulung dari konstantinopel memimpin pelayaran ke dunia Timur
c. Turki Usmani mengajak bangsa Eropa terutama Portugis untuk berlayar ke dunia Timur
d. para pedagang Eropa tidak dapat beroperasi di wilayah tersebut sehingga tidak dapat memperoleh rempah-rempah
e. informasi pelayaran ke dunia Timur disebarkan secara luas agar aktivitas perdagangan beralih ke dunia Timur
3. Bacalah teks berikut.
Ekspedisi pertama Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman di Banten gagal menancapkan kakinya. Hal tersebut terjadi karena sikap arogan dan kasar rombongan de Houtman yang memicu perseteruan dengan Kesultanan Banten. Pada ekspedisi kedua yang dipimpin oleh J.C. van Neck, rombongan justru disambut baik oleh Sultan Banten. Hal tersebut karena beberapa bulan sebelum kedatangan Belanda, Banten terlibat perang dengan Portugis.
Berdasarkan teks tersebut, alasan logis yang menyebabkan Banten menyambut baik kedatangan Belanda pada ekspedisi kedua adalah ....
a. pada ekspedisi kedua, Belanda memberikan penawaran tinggi untuk lada dari Banten
b. rombongan van Neck datang ke Banten dengan tujuan mengusir bangsa Portugis
c. Banten mengharapkan Belanda menjadi sekutu untuk melawan Portugis
d. rombongan J.C. van Neck tidak bersikap arogan terhadap rakyat Banten\
e. ekspedisi kedua Belanda tidak dipimpin oleh Cornelis de Houtman
4. Bacalah teks berikut.
Keberhasilan Belanda pada ekspedisi keduanya menyebabkan jumlah rempah-rempah yang dikirim ke Belanda meningkat pesat. Di luar perkiraan, hal tersebut justru menyebabkan harga rempah-rempah di Belanda jatuh. Hal tersebut diperparah dengan adaya persaingan tidak sehat antarpedagang Belanda.
Berdasarkan informasi tersebut, faktor yang menyebabkan harga rempah-rempah jatuh adalah ...
a. rempah-rempah berhasil ditanam di daratan Eropa
b. tingginya tingkat penawaran dibandingkan dengaan permintaan
c. Portugis menjual harga rempah-rempah lebih tinggi
d. Belanda berhasil memonopoli perdagangan rempah-rempah
e. rempah-rempah bukan lagi barang mewah saat itu
5. Permintaan Belanda memberikan sejumlah hak istimewa atau hak oktroi kepada VOC. Oleh karenanya, VOC dapat bertindak selayaknya sebuah negara, seperti menyingkirkan pedagang-pedagang selain pedagang Belanda di Maluku. Kebijakan tersebut berkaitan dengan salah satu poin hak oktroi, yaitu ...
a. melakukan pemungutan pajak
b. melakukan monopoli perdagangan
c. menyelenggarakan permintaan sendiri
d. mengadakan perjanjian dengan negara lain
e. menjadi wakil sah pemerintah Belanda di Asia
6. Dalam upaya melancarkan monopoli perdagangan rempah-rempah di Kepulauan Maluku, VOC menerapkanan beberapa kebijakan. Salah satu kebijakan yang diberlakukan adalah ekstirpasi, yaitu menebang kelebihan jumlah tanaman rempah-rempah. Berdasarkan informasi tersebut, alasan VOC perlu mengontrol jumlah tanaman rempah-rempah adalah ...
a. agar harga rempah-rempah tetap stabil
b. menghindari kedatangan para saudagar Tiongkok dan muslim
c. agar para petani hanya menjual hasil tanamannya kepada VOC\
d. menghindari Portugis, Spanyol, dan Inggris melakukan monopoli rempah-rempah
e. menjaga rempah-rempah di Kepulauan Maluku tetap berkualitas
7. Untuk melancarkan misinya dalam memonopoli rempah-rempah, VOC sering menerapkan beberapa kebijakan yang merugikan rakyat pribumi. Misalnya saja, VOC kerap mencampuri urusan internal kerajaan dengan tujuan memecah belah suatu kerajaan yang tengah dilanda konflik. Berikut contoh penerapan taktik divide et impera yang dilakukan VOC adalah ....
a. menawarkan bantuan kepada pihak yang berseteru dengan kesepakatan tertentu
b. menyatakan sikap berperang terhadap kerajaan-kerajaan lokal
c. memungut pajak dari wilayah-wilayah yang dikuasai
d. mengangkat dan menurunkan raja dari takhta
e. menerapkan kebijakan tanam paksa kepada rakyat jajahan
8. Selama berada di Maluku, Belanda aktif menyingkirkan pesaing-pesaing dari Eropa, terutama Inggris. Misalnya, pada 1623, sepuluh pedagang Inggris dari EIC, sepuluh orang Jepang, dari satu orang daro Portugis dibantai oleh serdadu VOC di Ambon. Berdasarkan informasi tersebut, tujuan VOC bersikeras menyingkirkan pesaing-pesaingnya adalah ....
a. mendapatkan simpati dari Kesultanan Tidore dan Ternate
b. menjaga wilayah Maluku dari keserakahan bangsa Eropa lainnya
c. mendapatkan penghargaan dari Heeren Zeventie di Belanda
d. mempertahankan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku
e. mengawasi dan menjaga stabilitas perdagangan rempah-rempah di Eropa
9. Bacalah teks berikut.
Pada 1795, Prancis menguasai Belanda dan mendirikan Republik Bataaf. Republik baru ini menjadi semacam negara bawahan Prancis. Pendudukan tersebut merupakan bagian dari ambisi Napoleon untuk menyebarluaskan hasil-hasil Revolusi Prancis, yakni republikanisme, kebebasan, dan kesetaraan ke seluruh Eropa yang umumnya masih menganut sistem pemerintahan monarki. Setelah berada di bawah pengaruh Prancis, Belanda kemudian membubarkan VOC pada tahun 1799.
Berdasarkan teks tersebut, simpulan yang tepat terkait pendudukan Prancis terhadap Belanda dan berakhirnya kekuasaan VOC adalah ....
a. VOC dianggap sebagai saingan dari Republik Bataaf
b. VOC menolak untuk menganut sistem pemerintahan monarki
c. Tindakan VOC dinilai bertentangan dengan semangat Revolusi Prancis
d. Napoleon ingin wilayah bekas kekuasaan VOC dikuasai Prancis
e. keberadaan VOC dinilai tidak memiliki keuntungan bagi Republik Bataaf\
10. Pada tahun 1850, Partai Liberal Belanda berhasil memenangkan pemilu. Berkembangnya paham liberalisme di Belanda yang dipengaruhi Revolusi Prancis juga memberi dampak pada perkembangan politik dan ekonomi di negeri jajahan, yakni Hindia Belanda. Salah satu dampaknya dalam bidang ekonomi adalah diterapkannya sistem ekonomi liberal. Sistem ekonomi tersebut diwujudkan dalam bentuk ....
a. kebijakan pemilu terbuka
b. kebijakan tanam paksa
c. sistem sewa tanah
d. Trias van Deventer
e. politik etis
ESSAY
1. Jelaskan faktor yang menyebabkan penjelajah Eropa memiliki ambisi gold, glory, dan gospel!
2. Bacalah informasi berikut.
Gubernur Jenderal VOC yang memindahkan pusat pemerintahan VOC dari Ambon ke Batavia adalah Jan Pieterszoon Coen atau J.P.Coen. Sebelumnya, pusat VOC berada di Ambon, Ternate, dan Banda dengan tujuan mendominasi perdagangan rempah-rempah di Kepulauan Maluku dan menyingkirkan kekuasaan imperialisme Portugis. Pada saat itu, wilayah Batavia masih bernama Jayakarta. Pangeran Wijayakrama, Adipati Jayakarta, mengizinkan VOC membangun sebuah loji atau kantor dagang di timur Sungai Ciliwung. Namun, VOC mulai tertarik dan melibatkan diri dalam berbagai konflik antarpenguasa Nusantara. Keterlibatan VOC turut memengaruhi timbulnya konflik antara rakyat dan penguasa di Nusantara.
Berdasarkan teks tersebut, menurut anda, apakah pemindahan pusat pemerintahan VOC dapat menguntungkan VOC dalam melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah? Jelaskan!
3. Tuliskan dampak yang dirasakan masyarakat Ambon setelah kehadiran VOC di wilayah tersebut!
4. Jelaskan pengaruh pemerintahan Raffles yang masih dapat dirasakan hingga saat ini!
5. Banyak berpendapat bahwa pemerintahan Daendels terkenal kejam karena memaksa rakyat untuk melakukan kerja rodi. Namun, ada pendapat yang menjelaskan bahwa Daendels yang menyiapkan dana untuk pembangunan jalan pos Anyer sampai Panarukan. Anggaran dana dari pemerintah kolonial tidak pernah sampai karena diselewenangkan oleh penguasa daerah sehingga konotasi kejam tidak dapat sepenuhnya diberikan kepada Daendels. Setujukah Anda dengan pendapat ini? Jelaskan pendapat anda secara jelas dan logis!
6. Tuliskan kebijakan yang diterapkan Gubernur Jenderal van der Capellen ketika berkuasa di Indonesia!
7. Jelaskan cara Portugis menjalankan praktik kolonialisme di Nusantara!
8. Bacalah teks berikut secara saksama.
Kolonialisme berasal dari bahasa latin Colonial yang artinya "Pertanian" atau "Permukiman". Kata Kolonialisme diartikan sebagai penakluk dan penguasaan atas tanah serta harta penduduk asli yang dilakukan penduduk pendatang. Umumnya, pembentukan komunitas atau koloni baru dalam masa kolonialisme ditandai dengan usaha membubarkan dan membentuk kembali komunitas yang ada. Caranya dengan praktik perdagangan, pembunuhan massal. perbudakan, penjarahan, dan pemberontakan.
Imperialisme berasal dari kata imperator yang artinya "memerintah". Pengertian Imperialisme adalah sistem dalam dunia politik dengan tujuan menguasai negara lain untuk memperoleh kekuasaan dan keuntungan. Istilah Imperialisme diperkenalkan pada tahun 1830 oleh penulis Inggris dalam menerangkan dasar-dasar perluasan Kerajaan Inggris.
Menurut Anda, apakah penjajahan yang dilakukan Portugis dan Spanyol dapat disebut kolonialisme atau Imperialisme? Berikan pendapatmu!
9. Jelaskan praktik korupsi yang dilakukan VOC hingga membuat kongsi dagang ini bangkrut.
10. Tuliskan alasan yang membuat VOC mengeluarkan kebijakan ekstirpasi kepada masyarakat Maluku!
0 Response to "BUPENA MERDEKA SEJARAH SMA KELAS XI (BAB 1) KOLONIALISME DAN IMPERIALISME BANGSA EROPA DI INDONESIA"
Post a Comment