-->

BUPENA MERDEKA SEJARAH SMA KELAS XI (BAB 4) PENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA

 BAB 4 

PENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA

 Modernisasi dan Perkembangan Imperialisme Jepang

1.  Sebelum era modern, Jepang merupakan sebuah negara feodal. Kaisar, shogun, serta daimyo memainkan peran penting, baik dalam bidang ekonomi maupun sosial-politik. Shogun adalah komandan angkatan bersenjata yang menjalankan kekuasaan sehari-hari secara absolut di Jepang atas restu kaisar. Pada masa itu, jabatan shogun hanya dipegang oleh sejumlah "klan" militer yang kuat. Mereka kerap bersaing satu sama lain untuk meraih kekuasaan. 
 
2. Hubungan dengan bangsa Eropa baru dimulai sejak XVI ketika para pedagang dan misionaris Serikat Yesus dari Portugal menginjakkan kaki di Jepang. Namun, tidak lama berselang, tepatnya tahun 1639, Shogun Tokugawa menjalankan kebijakan sakoku atau "negara tertutup" yang berlangsung selama dua setengah abad (1639-1853). Kebijakan ini membuat Jepang terisolasi dari dunia luar. Melalui kebijakan sakoku, orang asing dilarang masuk ke Jepang. Sebaliknya, orang Jepang dilarang berhubungan dengan orang asing ataupun meninggalkan Jepang. Meskipun demikian, dalam praktiknya Jepang tidak sepenuhnya terisolasi dari dunia luar. Beberapa negara masih diizinkan menjalin hubungan ekonomi dengan Jepang, seperti Belanda, Tiongkok, dan Korea.
 
3. Pada 8 Juli 1853, tibalah Komodor Angkatan Laut Amerika Serikat Matthew C. Perry dengan "Kapal Hitam"-Nya di Jepang. Perry menaiki kapal bertenaga mesin super jumbo yang dilengkapi persenjataan dan teknologi yang jauh lebih superior dibandingkan milik Jepang. Kedigdayaan militer Amerika Serikat memaksa Jepang menandatangani Konvensi Kanagawa (1854) antara Perry dan pemerintahan Shogun Tokugawa. 
 
4. Setelah itu, pemerintahan Shogun dihapuskan dan kekuasaan sepenuhnya berpusat ke tangan kaisar, yaitu Kaisar komei. Kedatangan "Kapal Hitam" Komodor Matthew Perry menyadarkan Jepang betapa tertinggalnya teknologi mereka dibandingkan negara-negara Barat. Lalu, muncullah tekad untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Namun, baru pada masa pemerintahan Kaisar Meiji (putra dari Komei) yang berkuasa sejak 1868, tekad tersebut terwujud secara konkret melalui berbagai langkah perubahan besar yang disebut Restorasi Meiji (1869-1912).
 
5. Restorasi Meiji menjadi kebangkitan industrialisasi di Jepang, termasuk mendukung kekuatan militer dalam ajang perebutan kekuasaan di dunia sejak awal abad XX. Berikut beberapa bidang garapan Kaisar Meiji yang tercakup dalam gerakan pembaruan itu.  
    a). Bidang Perindustrian 
         Dengan mengadopsi teknologi dari Amerika Serikat dan Eropa, Jepang membangun beragam kegiatan industri, seperti pabrik senjata, galangan kapal, pelebiran besi, dan pabrik pemintalan. Bersamaan dengan itu, dikembangkan pula sistem jaringan kereta api dan komunikasi modern. 
 
    b). Bidang Perdagangan  
          Dalam kegiatan perdagangan, Jepang mengembangkan pelabuhan-pelabuhan dan kapal-kapal dagangnya menjadi lebih modern. Kegiatan perdagangan pun mengalami kemajuan yang pesat. Hal itu didukung pula dengan pendirian bank-bank yang memungkinkan orang meminjam uang untuk investasi.
 
    c). Bidang Militer 
         Jepang gencar membangun angkatan perangnya. Pada tahun 1873, Jepang menerapkan kebijakan wajib militer bagi setiap laki-laki berumur 21 tahun untuk jangka waktu empat tahun dan diikuti dengan tiga tahun sebagai tentara cadangan. Untuk menunjang hal itu, Jepang membeli peralatan dan perlengkapan militer dari eropa maupun Amerika Serikat.
 
    d). Bidang Pendidikan  
          Jepang menerapkan wajib belajar bagi seluruh generasi muda bangsanya. Mereka dilatih untuk memiliki rasa cinta kepada tanah air, semangat pantang menyerah dan berani mati (bushido), serta hormat dana tunduk kepada kaisar. Ajaran tersebut didasari oleh prinsip samurai, tentara Jepang pada masa lalu. Pemerintah Jepang juga mengirimkan banyak beasiswa bagi mahasiswa-mahasiswa Jepang yang menimba ilmu di luar negeri, seperti di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Selain itu, juga mendatangkan banyak konsultan pendidikan asing untuk mengembangkan pendidikan di Jepang. 
  
    e). Bidang Sosial
         Pemerintah Jepang menghapus empat belas (kasta) dalam masyarakat pada tahun 1871, yaitu dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah, yaitu orang-orang bijaksana, petani, seniman, dan pedagang. Penghapusan ini merupakan bagian dari kebijakan umum Meiji untuk menghapus feodalisme tradisional, yaitu kekuasaan berada di tangan tuan-tuan tanah (daimyo) dan menggantinya dengan kekuasaan terpusat. Selain itu, pemerintah juga melarang adat-istiadat yang bersifat feodal peninggalan masa lampau, seperti memperlihatkan dan memakai katana dan kimono yang menjadi ciri khas kelas samurai yang telah dihapus bersamaan dengan penghapusan sistem kasta (kelas).
 
    f). Bidang Hukum 
         Sistem hukum dan konstitusi Jepang diubah dan mulai mengikuti model dan sistem hukum serta konstitusi di Jerman. Hukum tradisional yang sudah ada selama ratusan tahun mulai disesuaikan dengan hukum baru. 

 6. Jepang menikmati pertumbuhan ekonomi yang pesat berkat industrialisasi. Namun, sebagaimana negara-negara Barat pada era Revolusi Industri. Jepang juga sadar bahwa untuk menjamin pertumbuhan yang berkelanjutan dibutuhkan tiga hal penting, yaitu;

    1. pasokan bahan mentah yang stabil,

    2. jalur pelayaran yang aman, dan

    3. pasar bagi hasil industrinya.

    Jepang tidak memiliki sebagian besar bahan mentah. Oleh karena itu, mereka harus mengimpornya dari negara-negara lain di Asia. 

7.  Tidak cukup dengan wilayah yang ada, Jepang ingin menaklukkan lebih banyak wilayah negara atau kerajaan lain. Tujuan utamanya adalah menjamin kesinambungan pasokan bahan baku dan pasar. Untuk mencapai tujuan itu, Jepang memperkuat angkatan bersenjatanya. Dalam waktu singkat, militer Jepang berhasil diperkuat hingga setara dengan kekuatan militer negara-negara Eropa.

8. Jepang menjadi negara agresor bagi banyak wilayah, seperti Korea, Tiongkok, Rusia, dan indochina. Kemenangan Jepang atas Rusia sangat berarti, baik bagi Jepang maupun bangsa Asia. Hal ini karena untuk pertama kalinya dalam sejarah, bangsa Asia memenangi perang atas bangsa Eropa. Oleh karena itu, kemenangan ini membangkitkan harga diri dan kepercayaan diri bagi bangsa Jepang khususnya dan Asia umumnya ketika berhadapan dengan bangsa Eropa.

9. Meski tidak memiliki kepentingan di Indochina, sikap agresi Jepang ditentang Amerika Serikat. Pada 1941, Amerika Serikat memprakarsai dibentuknya persekutuan yang disebut ABDACOM (American, British, Dutch, Australian Command) untuk menghadapi Jepang.  

 

↪ Kedatangan Jepang di Indonesia  
 
1.  Jepang mendarat pertama kali pada 11 Januari 1942 di Tarakan, Kalimantan Timur, yang berhasil diduduki sehari setelahnya. Secara berturut-turut, Jepang menduduki Balikpapan dan Pontianak pada 24 Januari 1942 dan 29 Januari 1942. Selanjutnya, Samarinda dan Banjarmasin pun dapat diduduki pada 3 Februari 1942 dan 10 Februari 1942. Meski secara perlahan-lahan, Jepang berhasil menguasai berbagai daerah di Kalimantan dan Maluku pada awal Februari 1942. Selanjutnya, Jepang melanjutkan ekspansi ke wilayah Sumatra dan berhasil menduduki Palembang pada 16 Februari 1942. Palembang dianggap strategis karena letaknya di antara Batavia (pusat kekuasaan Belanda) dan Singapura (Inggris). Di Jawa, Jepang mendarat di Banten pada 1 Maret 1942. Setelah pendaratan tersebut, Belanda makin kewalahan menghadapi Jepang. Belanda menyerah tanpa syarat di Kalijati, Subang Jawa Barat, pada 8 Maret 1942 kepada Letjen Hitoshi Imamura. Sejak saat itu, Indonesia menjadi daerah kekuasaan Jepang. 
 
2. Pada awalnya, kedatangan Jepang disambut baik. Jepang diyakini akan mendukung kemerdekaan Indonesia. Ada lima alasan yang melandasi keyakinan tersebut, yaitu sebagai berikut;
    a). Menyerahnya Belanda kepada Jepang sebagai akhir penjajahan Belanda. Apalagi, Jepang memperkenalkan diri sebagai saudara tua bangsa-bangsa Asia dan mempropogandakan Gerakan Tiga A (29 April 1942), yaitu Nippon Cahaya Asia dan Pelindung Asia, dan Nippon Pemimpin Asia. 
    b). Jepang berjanji memerdekakan bangsa-bangsa Asia jika memenangi perang. 
    c). Sejak awal kedatangannya, Jepang telah membicarakan tentang kemerdekaan yang akan diberikan secara bertahap kepada bangsa-bangsa Asia.
    d). Jepang menunjukkan simpati kepada para tokoh pergerakan nasional, misalnya dengan membebaskan para tokoh yang dibuang oleh pemerintah Hindia-Belanda.
    e). Jepang memberi kebebasan beribadah, mengibarkan bendera Merah Putih berdampingan dengan bendera Jepang, menggunakan bahasa Indonesia, serta menyanyikan lagu "Indonesia Raya" bersama lagu kebangsaan Jepang "Kimigayo".
    
3. Setelah Jepang berkuasa di Indonesia, Jepang mulai membagi wilayah Indonesia menjadi tiga daerah militer dengan Saigon (Vietnam) sebagai pusat komando untuk Asia Tenggara. Jepang juga memasukkan beberapa tokoh politik Indonesia ke dalam struktur pemerintahan, seperti Hussein Jayadiningrat, Sutarjo Kartohadikusumo, R.M. Suryo, dan Prof. Supomo. Selain untuk memenuhi kebutuhan pegawai, pengangkatan mereka bertujuan menarik simpati rakyat.
 
4. Dalam sistem pemerintah, Jepang memperkenalkan sistem tonarigumi (sekarang disebut rukun tetangga) dengan tujuan membangun gerakan pertahanan masyarakat secara gotong royong. Dalam bidang politik, dibentuk Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa) yang bertugas mengumpulkan dana, tidak hanya dalam bentuk beras, ternak, logam mulia, kayu jati, dan lain-lain.
 
5. Jepang juga membagi wilayah Indonesia menjadi 10 keresidenan yang disebut syu. Untuk kebutuhan tenaga kerja, Jepang membentuk Romukyokai (panitia pengerah romusa/tenaga kerja). Dalam sistem pertahanan, dibentuk organisasi militer, dan semi militer, yakni:
   → Keibodan (Barisan Pembantu Polisi),
   → Seinendan (Barisan Pemuda),
   → Fujinkai (Barisan Wanita),
   → Heiho (Barisan Cadangan Prajurit),
   → Peta (Pembela Tanah Air),
   → Putera (Pusat Tenaga Rakyat),
   → Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa),
   → Jibakutai (Pasukan Berani Mati),
   → Kempeitai (Barisan Polisi Rahasia), dan
   → Gakukotai (Laskar Pelajar). 
Tujuannya adalah membantu Jepang memenangi Perang Asia Timur Raya.
 
  
 ↪ Dampak Pendudukan Jepang di Indonesia 
 
1. Bidang Politik: Dalam bidang politik, pemerintah Jepang melakukan beberapa hal sebagai berikut.  
    a. Membubarkan semua organisasi politik, sosial, dan keagamaan yang dibentuk pada masa Belanda.   Jepang mengganti organisasi-organisasi tersebut dengan organisasi-organisasi bentukannya sendiri. 
    b. Pemerintah Jepang mengawasi secara ketat gerak-gerik para tokoh pergerakan melalui polisi rahasia yang disebut kempetai.
    c. Untuk menarik simpati bangsa Indonesia, Jepang mengeluarkan berbagai kebijakan, antara lain mendorong penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, bekerja sama dengan para tokoh bangsa, membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) yang dipimpin oleh Sukarno, Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansur, membentuk Badan Pertimbangan Pusat yang disebut Chuo Sangi In (5 September 1943) yang bertugas memberikan saran dan tindakan yang perlu diambil oleh pemerintah Jepang dan menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait masalah politik, serta mendirikan Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa) pada 1944. 
 
2. Bidang Ekonomi: Dalam bidang ekonomi, pemerintah Jepang mengendalikan aktivitas perekonomian sepenuhnya. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai tindakan berikut. 
    a. Menyita aset-aset ekonomi yang penting 
    b. Melakukan pengawasan yang ketat dalam bidang ekonomi
    c. Menerapkan kebijakan self-sufficiency (rakyat harus memenuhi sendiri kebutuhannya, tidak bergantung pada daerah lain atau pemerintah).
    d.Mengeluarkan kebijakan setoran wajib dan romusha.
 
3. Bidang Sosial: Dalam bidang sosial, pemerintah Jepang melakukan beberapa hal sebagai berikut.
    a. Mengeluarkan perintah kerja paksa yang dikenal dengan romusa. Romusa menyebabkan lahan-lahan pertanian terbengkalai.
    b. Jepang mendoktrin masyarakat Indonesia ke alam pikiran Jepang. Sebelum mengajar, guru diwajibkan mengikuti pelatihan di Jakarta. Mereka ditanamkan nilai, semangat, dan ideologi Jepang. Doktrin yang ditanamkan, antara lain Hakko Ichiu (yang berarti ambisi Jepang menyatukan Asia Timur Raya di bawah kepemimpinan Jepang) dan Nippon Seisyin atau latihan kemiliteran dan semangat Jepang.
 
4. Bidang Kebudayaan: Dalam bidang kebudayaan, Pemerintah Jepang melakukan beberapa hal sebagai berikut.
    a. Pemerintah Jepang mendirikan pusat kebudayaan sebagai wadah bagi perkembangan kesenian Indonesia, yaitu Keimin Bunka Shidoso.
    b. Melalui Keimin Bunka Shidoso, Jepang melakukan pengawasan dan pengarahan kegiatan para seniman agar karya-karyanya tidak menyimpang dari kepentingan Jepang. Pembatasan yang sama juga berlaku untuk pers. 
 
5. Bidang Pendidikan: Dalam bidang pendidikan, dampak Pendudukan Jepang di Indonesia dapat terlihat dari beberapa kebijakan berikut.
    a. Jepang menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi pendidikan.
    b. Jepang menghapus sistem pendidikan yang didasarkan pada kelas sosial dan mulai mengakomodasi kurikulum lokal dalam sistem pendidikan.
    c. Jepang mengajak Ki Hajar Dewantara menjadi penasihat pendidikan.
    d. Membuka beberapa perguruan tinggi, seperti Ika Daigaku (Perguruan Tinggi Kedokteran). Koygo Daigaku (Perguruan Tinggi Teknik), dan Kenkoku Gakuen (Akademi Pamongraja).
    e. Menutup sekolah-sekolah Eropa dan Tionghoa.       
       
 
↪ Perjuangan Meraih Kemerdekaan pada Masa Pendudukan Jepan  
 
1. Perjuangan dengan Cara Kooperatif
    Perjuangan secara kooperatif dilakukan oleh tokoh-tokoh nasionalis yang duduk di lembaga-lembaga bentukan Jepang. Melalui Putera, keberadaan Sukarno, Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansur justru membangkitkan semangat nasionalisme bangsa Indonesia.
 
2. Perjuangan melalui Gerakan Bawah Tanah  
    Tokoh-tokoh gerakan bawah tanah, di antaranya kelompok Sukarni, kelompok Achmad Soebardjo, kelompok Sutan Syahrir, dan kelompok pemuda. Sukarni bersama Moh. Yamin bekerja di Sendenbu (Barisan Propoganda). Bersama tokoh-tokoh lain, Sukarni menggembleng para pemuda untuk berjuang mewujudkan kemerdekaan. 
    Achmad Soebardjo menjabat sebagai Kepala Biro Riset Kaigun Bukanfu (Kantor Penghubung Angkatan Laut) di Jakarta. Achmad Soebardjo mendirikan asrama pemuda yang bernama "Asrama Indonesia Merdeka". Di Asrama tersebut, ia dan rekan-rekannya menanamkan semangat nasionalisme di kalangan pemuda. Adapun simpul-simpul jaringan gerakan bawah tanah kelompok Syahrir adalah kader-kader PNI Baru. Sementara itu, di Jakarta, terdapat dua kelompok pemuda yang aktif berjuang, yakni mereka yang tinggal di asrama Ika Daigaku (Sekolah Tinggi Kedokteran) dan kelompok pemuda yang terhimpun dalam Badan Permusyawaratan Perwakilan Pelajar Indonesia (Baperpri). 
 
3.  Perlawanan Bersenjata  
a). Perlawanan Rakyat Aceh (10 November 1942)
     Dimotori oleh Tengku Abdul Jalil, yang memang antipenjajah dan tidak suka dengan sikap semena-mena Jepang. Jalil tewas di markasnya di Cot Plieng. Perlawanan lain juga dilakukan oelh anggota Giyugun bernama Teuku Hamid. Teuku Hamid juga akhirnya menyerah. 
 
b). Perlawanan Koreri di Biak (1943)
      Perlawanan Koreri terjadi karena kekejaman Jepang pada rakyat Biak. Tidak sedikit yang dijadikan budak, dipukuli, dan dianiaya secara kejam oleh Jepang. Penderitaan dan kesengsaraan tersebut mendorong Lukas Rumkorem untuk memimpin rakyat Biak melawan Jepang. Umumnya, perlawanan tersebut dilakukan secara gerilya.
 
c). Perlawanan Rakyat Desa Sukamanah di Tasikmalaya (25 Februari 1944)
     Dipicu penolakan santri-santri pondok Pesantren Sukamanah Singaparna pimpinan K.H. Zaenal Mustafa untuk melakukan seikeirei. Banyak pengikut K.H. Zaenal Mustafa tewas. Ia sendiri ditangkap dan dieksekusi mati pada 25 Oktober 1944.
 
d). Perlawanan Rakyat Indramayu (April 1944) 
      Dilatarbelakangi kewajiban menyetorkan sebagian hasil padi dan kerja paksa. Pemimpin perlawanan adalah H. Madriyas. Oleh karena perlawanan ini bersifat spontan, perlawanan ini dapat dihentikan Jepang dengan cepat. 
e). Perlawanan Peta di Blitar (14 Februari 1945) 
     Pembela Tanah Air (Peta) melakukan perlawanan karena ketidakpuasan terhadap kebijakan penyerahan hasil pertanian, romusa, dan Heiho secara paksa. Alasan lainnya adalah pelatih militer Jepang merendahkan prajurit Indonesia. Pemimpin perlawanan adalah Supriyadi. 
 
 
↪  Akhir Pendudukan Jepang di Indonesia
 
  1. Menjelang akhir kekuasaannya di Indonesia, Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia. Pada 7 September 1944, dalam sidang istimewa Parlemen Jepang (Teikoku Gikai) yang ke-85 di Tokyo, Perdana Menteri Kuniaki Koiso mengumumkan sikap pemerintah Jepang, yaitu daerah di Hindia Timur (Indonesia) akan di perkenankan merdeka.
 
 2. Untuk membuktikan kesungguhannya, pada 1 Maret 1945, Letnan Jenderal Kumakici Harada sebagai panglima tentara Jepang di Jawa mengumumkan pembentukan Dokuritsu Junbi Coosakai (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, disingkat BPUPKI) pada 1 Maret 1945 dan Dokuritsu Junbi Inkai (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, disingkat PPKI) pada 7 Agustus 1945.
 
 3. BPUPKI bertugas menyelidiki berbagai hal terkait aspek politik, ekonomi, pemerintahan, dan aspek lain yang diperlukan bagi pembentukan sebuah negara merdeka. Badan ini diketuai dr. Radjiman Wedyodiningrat dengan wakil R.P. Soeroso.
 
 4. PPKI bertugas mempersiapkan hal-hal yang diperlukan untuk kemerdekaan Indonesia. PPKI melanjutkan tugas yang dilakukan BPUPKI. Badan ini diketuai oleh Ir. Sukarno.
 
 5. Kekuasaan Jepang berakhir setelah diperoleh informasi bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu setelah bom atom Sekutu meluluhlantakkan Kota Hiroshima (6 Agustus 1945) dan Nagasaki (9 Agustus 1945).
 
 
↪ Pengaruh Pendudukan Jepang pada Masa Kini  
     Pengaruh penjajahan Jepang yang terasa hingga kini tampak dalam struktur masyarakat, bahasa, kesenian, pendidikan, dan militer.
a). Struktur Masyarakat : Pada masa pendudukan Jepang, diperkenalkan struktur terkecil dalam masyarakat. Struktur tersebut dibagi lebih lanjut ke dalam unit-unit yang lebih kecil lagi, yang disebut rukun warga (RW) dan rukun tetangga (RT). Sistem ini diterapkan di Jepang dengan nama tonarigumi. Tujuan pembentukan RT dan RW adalah memudahkan administrasi dan pengawasan.
 
b). Bahasa : Seiring dengan dijadikannya bahsas Indonesia sebagai bahasa yang diizinkan untuk digunakan, karya sastra bangsa Indonesia turut tumbuh dan berkembang. Beberapa karya sastra yang terbit pada masa ini adalah sandiwara panggung berjudul Kami, Perempoean karya Armijn Pane dan puisi Karawang-Bekasi karya Chairil Anwar.
 
c). Kesenian : Jepang mendirikan Keimin Bunka Shidoso (Pusat Kebudayaan) sebagai wadah aktivitas budayawan Indonesia agar tidak menyimpang dari tujuan Jepang. Pada 1 April 1943, lembaga ini mengadakan pameran karya pelukis lokas Indonesia, seperti Basuki Abdoellah, Agus Djajasoeminta, Otto Djaja Soetara, Kartono Joedokoesoemo, dan Emiria Soenassa. Karya dari seniman-seniman tersebut dapat dinikmati hingga saat ini.
 
d). Pendidikan : Jepang menghilangkan diskriminasi yang dipraktikkan pada masa kolonial Belanda. Pada masa pendudukan Jepang, rakyat dari beragam lapisan berhak untuk mengenyam pendidikan formal. Jepang menerapkan sistem pendidikan formal seperti di negaranya, yaitu SD 6 tahun, SMP 3 tahun, dan SMA 3 tahun. Sistem ini masih diterapkan oleh pemerintah Indonesia sampai saat ini. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, pemerintahan pendudukan Jepang memperkenalkan upacara bendera di sekolah. Hal tersebut dilakukan untuk menanamkan semangat kedisiplinan ala militer kepada para pelajar. 
 
e). Militer : Pemerintah Jepang membantu membangun semangat nasionalisme di kalangan kaum muda Indonesia melalui latihan-latihan militer yang mereka lakukan. Proses pembentukan dan pembangunan semangat nasionalisme itu dilakukan melalui pembentukan organisasi semimiliter dan organisasi militer. 

  

0 Response to "BUPENA MERDEKA SEJARAH SMA KELAS XI (BAB 4) PENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel